Posted by: rezutopia | March 7, 2009

Jilbab Q

Jilbab menurut ku dan (mungkin) sebagian orang

Jilbab adalah kain penutup kepala yang berfungsi untuk melindungi aurat kita (leher, rambut, kuping dll) agar tidak terlihat orang lain selain keluarga kita. Itulah deskripsi awalku tentang Jilbab, dan begitu juga tentang pakaian yang menemani Jilbab yang aku pakai. Masih celana jins ketat, dengan baju yang panjangnya nanggung(panjang banget nggak, pendek banget juga nggak), nggak nutup tapi asal membungkus aurat alias rada ketat (kata – kata yang sering di lontarkan red-rangers), celana jeans ku pun masih celana jeans belel yang biasa kupakai. Maklum amatiran yang baru aja belajar nutup aurat. Jilbab yang biasa kupakai tidak sempurna menutup dada, makeknya pun ku lilitkan di leher, lalu kutarik ke atas. <== dulu.

Sebelum memutuskan untuk mengenakan penutup aurat itu aku adalah seorang cewek yang pecicilan kata orang jawa, pakaian casual, kaos, celana jeans ketat, cuek, rambutku sering kubiarkan terurai bebas, locat kesana kemari, lari – lari, dan satu lagi pacaran selayaknya zaman sekarang pacaran.

Sejak lulus SLTA sebenernya telah kuniatkan untuk mulai menutup auratku tapi karena beberapa masalah, keinginan itu terus ku undurkan. Sejak awal aku selalu punya gambaran bagaimana seseorang yang memutuskan untuk menutup auratnya. Memang gambaranku bukan menjadi aku yang seperti sekarang, setidaknya tidak serba longgar seperti sekarang dan tidak memakai rok (salah satu pakaian yang tidak aku sukai dulu karena menurutku rok itu nggak macho) aku punya prinsip bila aku memutuskan untuk merubah penampilanku itu bukan hanya sekedar apa yang terlihat tapi lebih ke revolusi batin, hati dan pemikiran serta ibadahku yang sebelumnya tidak pernah lengkap.

Akhirnya pada awal semester 5 kuliahku, aku memutuskan untuk meluluskan niatku yang hampir 3 tahun tertunda. Aku mengenakan Jilbab dengan hanya sebatas pembungkus kepala dan tubuhku dari orang – orang yang bukan muhrim ku. Terkadang mikir juga, risi make pakean yang masih terlihat ketat sedangkan beberapa teman ku dari jurusan lain dan salah seorang temanku dari jurusanku sendiri telah mengenakan jubah. Rasa malu selalu nongkrong di wajahku setiap aku bertemu mereka. Malu karena aku tidak bisa seperti mereka. Aku selalu berusaha mencari pembenaran – pembenaran sendiri atas apa yang aku lakukan. Bahwa dengan hanya istiqomah memakai jilbab di kosan dan dimanapun itu sudah bisa dikatakan benar. ternyata anggapanku salah. Dimulai dari pengajian rutin yang teman – teman ku (rangers dan sailormoon) adakan tiap malam minggu, aku mulai tahu bahwa seorang muslimah seharusnya memakai pakaian yang benar – benar menutup auratnya bukan sekedar membungkus. Ditambah lagi rasa penasaran melihat beberapa teman sesama muslimah mengenakan rok. Aku penasaran apa enaknya pake rok. Aku nekat pakek rok, dan entah kenapa ada rasa bangga yang menguasai hatiku waktu aku memakai rok dan mengenakan jaket (alih – alih pakaian longgar). Namun susunan jilbabku masih seperti kemaren. Tidak sepenuhnya menutup dada, dan atasanku juga masih baju pas badan yang kemaren.

Lalu seorang ‘teman’ku memberitahuku sesuatu tentang parfum, jilbab besar, dan pakaian yang longgar. Bahwa muslimah itu nggak pakek parfum, bahwa jilbab ku kurang besar, bahwa pakaian atas ku masih mengambarkan bentuk tubuhku. Aku dengar dan aku tahu,

hanya saja aku tidak akan mau berubah hanya karena orang lain mengatakan padaku bahwa itu benar, dan aku juga tidak akan berubah hanya karena orang lain berubah dan aku harus menjadi seperti mereka.

Menurutku,

keikhlasan dalam menjalani sesuatu itu lebih penting daripada apa yang kita kenakan atau kita lakukan waktu itu.

Dosenku pernah menjelaskan tentang ‘estetika isi’ dan aku ingin membuktikan itu. apapun itu aku ingin beribadah dengan caraku.
Tanpa memakai seperti yang orang lain kenakan, tanpa melakukan apa yang orang lain lakukan aku akan membuktikan bahwa aku bisa mencapai titik yang aku dan (mungkin) kebanyakan orang targetkan tentang hubungan vertikal kita dengan Allah. Toh akhirnya setelah membaca beberapa artikel tentang pakaian dan parfum untuk muslimah, aku mengakhiri semprotan parfum setiap akan keluar rumah. Alih – alih parfum yang sayang udah kebeli tapi nggak kepake, parfum itu aku gunakan setiap aku mau tidur. Lumayan ngurangin bau apek dan asem setiap bangun tidur. Hahahaaaaa.

Sekarang pendapatku tentang Jilbab berubah, Jilbab bukan apa yang kita kenakan tapi apa yang kita rasakan.

Memakai jilbab karena keyakinan dan keikhlasan lebih bisa menutup aurat kita. Keikhlasan dan keyakinan itulah yang akan mendorong kita untuk belajar menjadi lebih baik karena kerelaan dan keikhlasan hati kita. Apa pun yang kita lakukan dengan keikhlasan dan keyakinan kita (dalam artian hubungan Vertikal) akan lebih nikmat rasanya.

Menurutku ibadah itu urusan hati, saat ibadah pertanyaan awal nya adalah kita yakin dan ikhlas nggak selebihnya adalah manifestasi dari keyakinan(pada Allah) itu sendiri. MERDEKA !!!! MERDEKA!!!!! Semoga Allah memberi kekuatan untuk tetap istiqomah di jalan ini dan semoga bisa jadi jauuuuhhh lebih baik lagiii. Amieeeeeeeennnnnnn….


Responses

  1. Salaamat wa aadaab

    Do visit my blog on islam, quran, ijtihad, persecution, etc…

    Latest post: Lady Kariimah, a great scholar of hadiith

    http://munir123.wordpress.com/

    please pass around Thank You


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: