Indonesia

Indonesia KU ….. ATAU …. INDONESIA KITA SEMUA ?

Pagi ini saya masuk kuliah kewirausahaan. Sebenernya gak ada yang begitu istimewa pagi ini malah mungkin bisa jadi pagi ini adalah salah satu pagi terburuk selama minggu ini setelah pagi – pagi terburuk sebelumnya. Mungkin salah satu semangat saya masuk kuliah pagi ini adalah kepingin melihat teman – teman saya di permalukan di depan kelas tanpa ampun gara – gara telat (hukuman yang memang secara tidak tertulis telah di sepakati d Mata kuliah yang satu ini). Hari ini entah kenapa dosen kami tidak punya gairah untuk ‘melucuti’ harga diri teman – teman saya di depan kelas, malah beberapa mahasiswa dipersilahkan masuk dan langsung duduk, termasuk sohib saya sekaligus ketua Mahasiswa yang dari pertama saya incar karena dia telat hari ini. Tapi disamping itu, saya mendapatkan pelajaran yang berharga hari ini. Pelajaran yang sering di sampaikan oleh beberapa dosen kami, pelajaran yang sering di angkat di forum – forum. Pelajaran yang mendorong saya untuk menuliskannya sebagai tema pertama di Blog. Tema yang sudah sering diangkat tapi sayang masih belum bisa menggugah banyak orang untuk berubah. Setidaknya bukan kaum birokrat di setiap sudut provinsi di Indonesia.

Tema tentang bagaimana Indonesia ini sangat kaya Sumber daya Alam tapi sangat melarat moral dan kepribadian. Bagaimana Indonesia ini di pertahankan oleh orang – orang yang dengan siap sedia menyerahkan jiwa dan raga pada masa perjuangan dan sekarang dengan gampangnya Indonesia ‘di jual’ ke penjajah modern. Bagaimana Indonesia benar – benar di gerogoti internal dan external. Koruptor merajalela, perusahaan – perusahaan asing bercokol di mana – mana menguras Sumber Daya Alam Indonesia yang belum terjamah oleh anak – anak bangsa sendiri. entah apakah sumber daya alam itu sengaja di persembahkan pada Perusahaan – perusahaan asing itu atau memang karena kita tidak punya Sumber Daya Manusia sehebat mereka, jadi kita pasrah waktu mereka mengobok – obok Harta kita dengan hanya memberi kompensasi 25%. Dibandingkan banyaknya Harta yang mereka kuras tentu 25% itu means nothing. Apa benar SDM kita selemah itu? apa benar SDM kita tidak bisa bersaing dengan orang – orang barat itu? tentu tidak. Buktinya ada Bapak B.J Habiebie setidaknya itu jadi salah satu bukti bahwa orang Indonesia juga bisa di perhitungkan ‘di sono’. Tapi … ?

Dosen saya mengisahkan beberapa cerita klasik bagaimana nelangsanya Indonesia :

– Barang Indonesia yang sulit masuk pasar Internasional dikarenakan tidak punya standart Internasional –katanya.

– Negara tetangga kita yang kecipratan nama jadi penghasil kelapa sawit terbesar di dunia padahal kita yang punya kebonnya L. Berhektar – hektar malah. Apa satelit itu gak melek ya ngeliat lahan kelapa sawit yang bergerombol di Indonesia???

– Negara kita hanya bisa menghasilkan bahan mentah yang akhirnya di export oleh Negara lain dan di olah menjadi produk yang nantinya jadi jauuuuuh lebih mahal lagi dari apa yang kita hasilkan(bahan mentah). Kita hanya bisa jadi petani mereka. Kenapa bukan kita yang mengolah sendiri ?????

– Aset kita yang di jual ke orang lain. Bahkan sempat ada kasus orang mau jual salah satu PULAU di Indonesia. Masya Allah … kok bisa ?saya juga pernah dengar bahwa salah satu pulau di Indonesia ‘rencananya’ dulu mau di serahkan ke Perusahaan asing untuk di kelola sepenuhnya. Kok seneng mereka ya ??? nasionalisme nya di mana?

– Orang lain yang dengan mudahnya menyedot sumber daya alam kita dengan imbalan yang tidak setimpal.

Untuk kasus ini terjadi juga di tanah kelahiran saya. Salah satu perusahaan asing di bidang pertambangan mulai menegosiasikan lahan yang rencananya akan di ‘olah’ oleh mereka. Padahal di beberapa tempat yang telah jadi korban mereka tidak ada reklamasi ulang areal korban setelah madunya habis mereka hisap. Ironis … kita menyediakan lahan kita untuk di hisap sampai ke akar untuk orang lain, orang yang bukan saudara kita, orang yang bukan sebangsa dengan kita, orang yang tidak tahu seberapa keras pejuang kita mempertahankannya, orang yang tidak tahu seberapa berharganya tiap jengkal tanah yang mereka gunakan untuk setiap kepala orang Indonesia.

Bukan mencoba untuk mengingkari bahwa mereka disatu sisi membawa keuntungan bagi daerah sekitar berupa lapangan pekerjaan atau setidaknya kompensasi tanah yang tidak murah. Tapi … coba bayangkan (lebih baik di lakukan) kalau yang mengelola tempat itu adalah generasi muda Indonesia, orang – orang yang paham betul nasionalisme. Saya rasa SDM kita mampu untuk itu, toh di perusahaan tersebut juga banyak orang Indonesia yang kerja di situ. Lalu kenapa ragu? Daripada kita hanya kebagian 25% dari yang tersedot, Negara bisa dapat lebih banyak dari itu bila Negara yang mengelola. Tentu seorang Ibu(Indonesia) lebih rela apa yang di milikinya di gunakan oleh anaknya sendiri dari pada anak orang, kan ???

– Beberapa Mahasiswa Indonesia yang ‘mbalelo’ pada ibu-nya(Indonesia). Kuliah di luar negeri, pinter, kerja di sana. Lalu bila dirasa kehidupan di sana lebih nyaman dan enak lalu memutuskan tinggal di sana. Apa nggak ada keinginan untuk membangun daerah ya ? kalau kayak gitu kapan para sarjana – sarjana pinter Indonesia lulusan luar negeri bisa membangun Indonesia lebih baik lagi. semakin banyak pemikir bukannya semakin bagus? Tapi pemikirnya pada lari kalang kabut melihat keadaan ibunya yang lagi jatuh, durhaka!!

Akhirnya kesimpulannya à Indonesia ini adalah IndonesiaKU. Rasa Nasionalisme perlu di tumbuhkan lagi. saya rasa kita perlu buka lagi pelajaran sejarah kita di bangku SD sampai bangku SLTA. Pasti di buku – buku itu ada satu cerita yang selalu di ceritakan yaitu cerita tentang pahlawan – pahlawan perjuangan kita dari Zaman Pangeran Antasari, Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Bung Tomo, Presiden dan Wakil Presiden pertama kita, korban G 30/S/PKI, dan banyak lagi. lupakah kita bahwa tanah ini milik kita orang Indonesia, lupakah kita bahwa mereka mempertahankan apa yang kita miliki sekarang dengan nyawa mereka, lupakah kita bahwa di tanah ini kita selama ini hidup. Lalu apa semudah itu kita serahkan harta kita, apa yang kita miliki ke orang lain yang sama sekali tidak mengerti pengorbanan pahlawan kita? Apa segampang itu kita persembahkan harta kita kepada orang – orang lain yang tidak bisa merasakan peluh yang telah di cucurkan selama ini untuk membangung Indonesia ini hanya dengan embel – embel segepok uang? Kapan kita bangun Indonesia, Teman? Kapan kita buat Indonesia ini bisa membuat orang – orang itu standing Applause hanya dengan mengengar nama Negara kita ? saya ingin berusaha berteriak agar semua orang bisa bangun untuk mendengar saya dan tergugah atau bangun lalu mencaci maki saya karena saya salah. Setidaknya bila mereka mencaci maki mereka pasti punya alasan, dari situ kita bisa berkembang untuk INDONESIA KU – INDONESIA KITA. MERDEKA!!!!!!
Indonesia KU ….. ATAU …. INDONESIA KITA SEMUA ?

Pagi ini saya masuk kuliah kewirausahaan. Sebenernya gak ada yang begitu istimewa pagi ini malah mungkin bisa jadi pagi ini adalah salah satu pagi terburuk selama minggu ini setelah pagi – pagi terburuk sebelumnya. Mungkin salah satu semangat saya masuk kuliah pagi ini adalah kepingin melihat teman – teman saya di permalukan di depan kelas tanpa ampun gara – gara telat (hukuman yang memang secara tidak tertulis telah di sepakati d Mata kuliah yang satu ini). Hari ini entah kenapa dosen kami tidak punya gairah untuk ‘melucuti’ harga diri teman – teman saya di depan kelas, malah beberapa mahasiswa dipersilahkan masuk dan langsung duduk, termasuk sohib saya sekaligus ketua Mahasiswa yang dari pertama saya incar karena dia telat hari ini. Tapi disamping itu, saya mendapatkan pelajaran yang berharga hari ini. Pelajaran yang sering di sampaikan oleh beberapa dosen kami, pelajaran yang sering di angkat di forum – forum. Pelajaran yang mendorong saya untuk menuliskannya sebagai tema pertama di Blog. Tema yang sudah sering diangkat tapi sayang masih belum bisa menggugah banyak orang untuk berubah. Setidaknya bukan kaum birokrat di setiap sudut provinsi di Indonesia.

Tema tentang bagaimana Indonesia ini sangat kaya Sumber daya Alam tapi sangat melarat moral dan kepribadian. Bagaimana Indonesia ini di pertahankan oleh orang – orang yang dengan siap sedia menyerahkan jiwa dan raga pada masa perjuangan dan sekarang dengan gampangnya Indonesia ‘di jual’ ke penjajah modern. Bagaimana Indonesia benar – benar di gerogoti internal dan external. Koruptor merajalela, perusahaan – perusahaan asing bercokol di mana – mana menguras Sumber Daya Alam Indonesia yang belum terjamah oleh anak – anak bangsa sendiri. entah apakah sumber daya alam itu sengaja di persembahkan pada Perusahaan – perusahaan asing itu atau memang karena kita tidak punya Sumber Daya Manusia sehebat mereka, jadi kita pasrah waktu mereka mengobok – obok Harta kita dengan hanya memberi kompensasi 25%. Dibandingkan banyaknya Harta yang mereka kuras tentu 25% itu means nothing. Apa benar SDM kita selemah itu? apa benar SDM kita tidak bisa bersaing dengan orang – orang barat itu? tentu tidak. Buktinya ada Bapak B.J Habiebie setidaknya itu jadi salah satu bukti bahwa orang Indonesia juga bisa di perhitungkan ‘di sono’. Tapi … ?

Dosen saya mengisahkan beberapa cerita klasik bagaimana nelangsanya Indonesia :

– Barang Indonesia yang sulit masuk pasar Internasional dikarenakan tidak punya standart Internasional –katanya.

– Negara tetangga kita yang kecipratan nama jadi penghasil kelapa sawit terbesar di dunia padahal kita yang punya kebonnya L. Berhektar – hektar malah. Apa satelit itu gak melek ya ngeliat lahan kelapa sawit yang bergerombol di Indonesia???

– Negara kita hanya bisa menghasilkan bahan mentah yang akhirnya di export oleh Negara lain dan di olah menjadi produk yang nantinya jadi jauuuuuh lebih mahal lagi dari apa yang kita hasilkan(bahan mentah). Kita hanya bisa jadi petani mereka. Kenapa bukan kita yang mengolah sendiri ?????

– Aset kita yang di jual ke orang lain. Bahkan sempat ada kasus orang mau jual salah satu PULAU di Indonesia. Masya Allah … kok bisa ?saya juga pernah dengar bahwa salah satu pulau di Indonesia ‘rencananya’ dulu mau di serahkan ke Perusahaan asing untuk di kelola sepenuhnya. Kok seneng mereka ya ??? nasionalisme nya di mana?

– Orang lain yang dengan mudahnya menyedot sumber daya alam kita dengan imbalan yang tidak setimpal.

Untuk kasus ini terjadi juga di tanah kelahiran saya. Salah satu perusahaan asing di bidang pertambangan mulai menegosiasikan lahan yang rencananya akan di ‘olah’ oleh mereka. Padahal di beberapa tempat yang telah jadi korban mereka tidak ada reklamasi ulang areal korban setelah madunya habis mereka hisap. Ironis … kita menyediakan lahan kita untuk di hisap sampai ke akar untuk orang lain, orang yang bukan saudara kita, orang yang bukan sebangsa dengan kita, orang yang tidak tahu seberapa keras pejuang kita mempertahankannya, orang yang tidak tahu seberapa berharganya tiap jengkal tanah yang mereka gunakan untuk setiap kepala orang Indonesia.

Bukan mencoba untuk mengingkari bahwa mereka disatu sisi membawa keuntungan bagi daerah sekitar berupa lapangan pekerjaan atau setidaknya kompensasi tanah yang tidak murah. Tapi … coba bayangkan (lebih baik di lakukan) kalau yang mengelola tempat itu adalah generasi muda Indonesia, orang – orang yang paham betul nasionalisme. Saya rasa SDM kita mampu untuk itu, toh di perusahaan tersebut juga banyak orang Indonesia yang kerja di situ. Lalu kenapa ragu? Daripada kita hanya kebagian 25% dari yang tersedot, Negara bisa dapat lebih banyak dari itu bila Negara yang mengelola. Tentu seorang Ibu(Indonesia) lebih rela apa yang di milikinya di gunakan oleh anaknya sendiri dari pada anak orang, kan ???

– Beberapa Mahasiswa Indonesia yang ‘mbalelo’ pada ibu-nya(Indonesia). Kuliah di luar negeri, pinter, kerja di sana. Lalu bila dirasa kehidupan di sana lebih nyaman dan enak lalu memutuskan tinggal di sana. Apa nggak ada keinginan untuk membangun daerah ya ? kalau kayak gitu kapan para sarjana – sarjana pinter Indonesia lulusan luar negeri bisa membangun Indonesia lebih baik lagi. semakin banyak pemikir bukannya semakin bagus? Tapi pemikirnya pada lari kalang kabut melihat keadaan ibunya yang lagi jatuh, durhaka!!

Akhirnya kesimpulannya à Indonesia ini adalah IndonesiaKU. Rasa Nasionalisme perlu di tumbuhkan lagi. saya rasa kita perlu buka lagi pelajaran sejarah kita di bangku SD sampai bangku SLTA. Pasti di buku – buku itu ada satu cerita yang selalu di ceritakan yaitu cerita tentang pahlawan – pahlawan perjuangan kita dari Zaman Pangeran Antasari, Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Bung Tomo, Presiden dan Wakil Presiden pertama kita, korban G 30/S/PKI, dan banyak lagi. lupakah kita bahwa tanah ini milik kita orang Indonesia, lupakah kita bahwa mereka mempertahankan apa yang kita miliki sekarang dengan nyawa mereka, lupakah kita bahwa di tanah ini kita selama ini hidup. Lalu apa semudah itu kita serahkan harta kita, apa yang kita miliki ke orang lain yang sama sekali tidak mengerti pengorbanan pahlawan kita? Apa segampang itu kita persembahkan harta kita kepada orang – orang lain yang tidak bisa merasakan peluh yang telah di cucurkan selama ini untuk membangung Indonesia ini hanya dengan embel – embel segepok uang? Kapan kita bangun Indonesia, Teman? Kapan kita buat Indonesia ini bisa membuat orang – orang itu standing Applause hanya dengan mengengar nama Negara kita ? saya ingin berusaha berteriak agar semua orang bisa bangun untuk mendengar saya dan tergugah atau bangun lalu mencaci maki saya karena saya salah. Setidaknya bila mereka mencaci maki mereka pasti punya alasan, dari situ kita bisa berkembang untuk INDONESIA KU – INDONESIA KITA. MERDEKA!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: