Posted by: rezutopia | April 27, 2010

rez MOVED TO A NEW HOME

Hi Guys ….. apparently I Moved To my New Site …….. a friend gave me the cool site and also the hosting. can’t miss it so …. I took it. then ….. I really hope that you will give me a visit to my new site …… There will be alot of new stuff besides my current stuff in this blog… so Check that out … I’m Waiting for you pal ….😀

VISIT

IREZ NEW SITE

Posted by: rezutopia | March 28, 2010

PENDIDIKAN, Riwayat mu kini ……….

cell-cheating

cell-cheating

Dinas pendidikan tengah menggelar hajat besar yang melibatkan sekolah di seluruh Indonesia. Seluruh sekolah mulai dari tingkat dasar hingga tingkat menengah Atas. UNAS telah menjadi tradisi tiap tahunnya sejak tahun 1983. Dan seperti biasa, Dinas pendidikan yang menyiapkan segala macam peralatan dan regulasi yang bersangkutan dengan UNAS. Mulai dari menyiapkan kisi – kisi soal, peningkatan standart kelulusan, menyiapkan segala logistic UNAS, de el el.

Sejak awal UNAS di berlakukan kepada setiap siswa, di harapkan UNAS bisa menjadi alat evaluasi untuk hasil belajar para siswa selama tahun pembelajaran mereka. Agar terlihat jelas apa yang di dapat kan siswa tersebut selama 6 / 3 tahun sekolah mereka. Apa mereka cuman makan bangku sekolah tapi gak ada hasilnya atau mereka adalah batu – batu yang di sepuh dalam bangku pendidikan hingga berubah menjadi intan. Standart kelulusan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun adalah bukti bahwa pemerintah kita tengah ‘memaksa’ generasi muda agar tidak manja lagi seperti generasi sebelumnya, gak manja, pejuang, jujur, dan kualitas pendidikan meningkat (bukan hanya kuantitas lulusan). Namun,apakah dengan segala regulasi tingkat ruwet, system keamanan berlapis, dan segala cap [Dokumen Negara Sangat Rahasia], lalu UNAS kita telah berjalan sebagaimana mestinya. Apakah dengan standart kelulusan yang melambung tinggi kayak harga BBM itu juga berbanding lurus dengan tujuan UNAS itu sendiri, meningkatkan KUALITAS LULUSAN???????

Yang terjadi di Indonesia kita yang tercinta ini ternyata sungguh mencengangkan, kalo lebay sih sampe mangap. Tapi gak usah pura – pura kaget deh. Udah jadi konspirasi terselubung oleh ‘beberapa’ sekolah. Bahwa semakin meningkatnya standart kelulusan berarti akan semakin kendor peraturan oleh end user nya. Bahwa akan di rancang sedemikian rupa cara untuk lolos dari goa buaya ini dengan tindakan – tindakan curang yang mereka anggap sah – sah saja, demi prestise, demi emosi, demi masa depan, dan demi – demi yang lain. Bahwa kita SEMUA tau …. Tapi menutup mata kita, hati kita, dan telinga kita rapat – rapat dari ke-bobrokan ini. Atau lebih tepatnya dipaksa buta, tuli dan mengeraskan hati kita.

NYONTEK

NYONTEK

Bayangkan bagaimana siswa dapat mencapai standart kelulusan dengan nilai murni, bagaimana mereka akan belajar berjuang minimal untuk ‘malu’ mereka sendiri, jika dari tahun – ke tahun mereka tahu mereka akan terselamatkan dengan beribu cara berkelit yang telah turun temurun di pelihara. Jadi jangan kaget dengan standart yang segitu melambungnya gak terlalu banyak yang KO. KO nya pun kayaknya gak wajar. Bisa jadi mereka gak dapat bocoran jawaban via sms (lagi apes … lupa bawa HP) atau gak sempet nyontek (Apes lagi …. Yang jaga Kiler Gila). Hahahahahahahahahaaa
Jika duluuuu ….. mencontek akan di ganjar pencabutan kertas Jawaban. Sekarang …… pengawas hanya tersenyum simpul lalu membuang pandangan kea rah lain dan berpura – pura tidak terjadi apa – apa. Padahal di depan hidungnya ada bocah – bocah yang tengah belajar menjadi generasi penerus bangsa yang tidak bisa di andalkan….just like our ancestor, politisi – politisi. Hal seperti ini tidak akan masuk dalam buku catatan carut marut UNAS. Tidak akan pernah.

Semakin ketat sebuah kemanan, maka sang maling akan meningkatkan keterampilan untuk menghancurkan system keamanan itu hingga berkeping – keeping. Kiranya begitulah wajah pendidikan sekarang ini ….. hancur berkeping – keping. Di khianati oleh aparat yang membantu Pendidikan.
Bukan peraturannya yang salah, bukan juga standart itu yang di salahkan. Pertama yang harus bertanggung jawab adalah mental masing – masing individu sesuaui dengan peran masing – masing. Percuma bila keamanan berlapis di terapkan, sampai harus polisi turun tangan mengamankan naskah UNAS, pengawas harus bersilang dengan sekolah laen, amplop jawaban harus di segel dan dimasukkan lagi di amplop besar lalu di segel lagi. Untuk apa??? Sedang kasus nya ada di dalam kelas ….. tepat ketika bel tanda mengerjakan ujian di mulai, tepat di depan hidung para pengawas, tepat di dalam laci ketika siswa sms dan nyontek………..

Lalu apa gunanya dana yang terkucur hingga menguras isi kantong Indonesia bila …. Hasilnya tidak sepadan dengan pengorbanan Indonesia karena telah di cuangi oleh hamper seluruh elemen yang terkait dan punya kepentingan???????

Ketidak jujuran meraja lela, kecurang an di halalkan demi menyelamatkan Generasi – generasi manja Indonesia. Bukan … bukan UNAS nya yang salah. Tapi apapun itu regulasinya, siapapun yang memegang kekuasaan, siapapun yang akan melaksanakan gak penting dan gak akan ada pengaruhnya bila kita masih memlihara mental manja kita, yang terbiasa MENGHALALKAN SEGALA CARA UNTUK MENANG. Meskipun itu harus sikut kanan, kiri, tutup mata tutup telinga hingga kita buta dan tuli serta hati kita ikut mati suri.
Ternyata hingga saat ini KUALITAS PENDIDIKAN cumin utopia …… Just Like another utopia … tetap bermimpi dan pergi ….. Oh…pendidikan Indonesia … bagaimana riwayatmu selanjutnya????

Posted by: rezutopia | March 18, 2010

Soldier Of ALLAH – SLEEPING GIANT

MUSLIM ARE THE SLEEPING GIANT …. itu pesan yang    coba di  sampaikan oleh Soldier Of ALLAH. Bahwa muslim    adalah sebuah kekuatan yang amat sangat hebat yang terpaksa   diam karena telah di racuni oleh musuh – musuh ALLAH agar tidak bangkit lagi dan membinasakan mereka, kekuatan hebat yang bahkan duniapun segan dengan kehebatan Islam,………. Jika Muslim bersatu Yakinlah kekuatan itu suatu saat akan muncul. Dengan bersatu … tidak ada yang perlu di takutkan …. karena kita adalah GIANT yang sedang TERTIDUR PANJANG. SUATU SAAT KITA AKAN DAN HARUS BANGUN ….. MUSLIM ARE THE SLEEPING GIANT … WAKE UP GIANT… WAKE UP ……  BREAK THE CHAIN … TAKE THE SWORD ……. BRING ISLAM BACK !!!!!!!!!!!!

SLEEPING GIANT LYRICS

You know, I really like your music
But don’t you think you guys are really harsh on the kufars?

We’re not harsh on the kufars
The kufars are harsh on us

The poison is injected
The giant is asleep
He’s chain into sections
To keep him off his feet
The mission is forgotten
The bond is getting weak
Wake up oh Muslim Ummah
Before we face the heat

Telling me to calm down
A year has past
since the last song
Situation has worsen
It was kosovo and Kashmir
Now it’s chechnia and dagistan
So who is next in line
Governments who claim
They implementing Islam
Like who??!
Like Taliban, Iran and Sudan..
All 52
So called Muslim nations
Oppressing the masses
in the name of Islam
They are digging our graves
while we are a sleep
over a billion
But oh so weak
We need to rise up
And get back on our feet
We’ve been fooled too long
This what happens
When we let kafirs lead

Why are we losing?
Who are we amusing?
Sisters are leaving
because brothers are abusing
Twisting Islam’s teachings
mixing culture and pride
using Islam to justify
for the tears that she cries
When I look into her eyes
I see the pain deep inside
As she leaves and says good bye
Now tell me who’s to blame
Don’t just sit there in shame
Lets look to Islam to cure the pain
to all my sisters in pain
These oppressors are insane
They’re heading straight
to the hell fires flame

The poison is injected
The giant is asleep
He’s chain into sections
To keep him off his feet
The mission is forgotten
The bond is getting weak
Wake up oh Muslim Ummah
Before we face the heat

Imitating the kafirs
Flirting with disaster
Even our sheiks and Imams
Are dressed up like priests and pastors
Khatibs wearing long robes
Historical clothes
More puppets than puppet show
Leaving us with no solution
after their speech
Dawah based on prestige
Watch as they leach off
the Muslim Community
What ever happened to
this Ummah’s unity
NOTHING!
Exactly
They’re laughing!
Because they are acting
They cut the tongues
Of those who speak the truth
Fearing that the message
Will be passed on to the youth
You say its hard to believe
Before you nod your head
THINK!
If our Scholars spoke the truth
Why would our enemies
Give them the platform to speak

The giant is in a slumber
Islam is complete
yet the Ummah looks up
to democracy for its needs
Defeated mentality
Left us in a gutter
The giant used to
Take care of the world
Now asks the kafirs to usher
Remember the battle of Bader
They doubted us from the start
Muslims had Islam
In their minds and their hearts
They know they fear us
Injecting poisons venom
so they tear us a part
This is just a reminder
Take it straight to the heart
Let us get back in the lead
Shake the giant to wake
Flourish and rejuvenate
Implement only Islam
to revive and renovate

The poison is injected
The giant is asleep
He’s chain into sections
To keep him off his feet
The mission is forgotten
The bond is getting weak
Wake up oh Muslim Ummah
Before we face the heat

Brothers killing brothers
While the kafirs getting richer
Muslim blood on my fingers
Tell me what’s wrong with this picture
These organizations
Making no difference
They’re making dollars no sense
In their lack of assistance
Muslims enlisted
in the enemy’s cavalry
Firing at our own people
Muslims to Muslim fatality
On the battle scene
Surrounded by our own casualties
Under siege
By these corrupted regimes
Blood to our knees
While the great giant sleeps

Whose law are you following?
Which side are you on?
Our brothers shed blood
For the cause of the kufar
They show us “Three Kings”
When we saw them stealing
They play as heroes
When we know they are zeros
Playing with our minds
Trying to use us as a pawn
THIS IS OUR SITUATION
NOT JUST A SAD SONG
Let us rise the Ummah
And follow the Sunnah
to Bring Back Islam
Implement the Quran
Awake this sleeping giant
That’s stronger than a lion
to chain up the Shaitan
Victory is promised
So work for Islam
and keep your Deen strong
We’ve waited too long
From here to Mecca

ALL TOGETHER NOW!

Let us rise The Ummah!
Let us Rise The Ummah!
Let us Rise The Ummah!

The poison is injected
The giant is asleep
He’s chain into sections
To keep him off his feet
The mission is forgotten
The bond is getting weak
Wake up oh Muslim Ummah
Before we face the heat

Download Music : Download

Posted by: rezutopia | March 14, 2010

“Cinta Lelaki Biasa” (kisah nyata)

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya. Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu. Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka. Kamu pasti bercanda! Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda. Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak. Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah. Tapi kenapa? Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa. Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya. Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania! Cukup! Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Setahun pernikahan. Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka. Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia. Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania. Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan. Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama. Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik. Cantik ya? dan kaya! Tak imbang! Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

~~~

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya. Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan! Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil. Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang. Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali. Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya. Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan. Dokter? Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar. Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat? Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri. Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir. Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat. Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis. Mama Nania yang baru tiba, menangis.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya. Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh. Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi. Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh? Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli. Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun. Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari.

Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat. Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik. Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua! Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya. Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta.

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi? Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan. Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna.

Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya. Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

catatan : true story
From : Bramanryo IS1, sumber:Unknown

(dari notesnya mbak Saraswati Hastuti .)

Older Posts »

Categories